Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Yang Masih Muda

  Kulihat dua pasang mata beradu pandang. Mesra dan penuh kasih. Aku melihat keduanya tak sungkan memamerkan asmara yang seolah tidak terbendung, seperti sudah tak berjumpa bertahun-tahun. Kangen kronis batinku. Aku memalingkan muka. Mungkin aku cemburu. Cemburu karena separuh duniaku ada di belahan bumi lain yang puluhan ribu mil jauhnya, yang berjarak dengan gelombang lautan, musim bahkan waktu. Waktu pun sinis dengan hubungan kami. Siang-Malam. Malam-Siang. Kami tak pernah sependapat akan itu. Kulihat lagi dua sejoli itu, tertawa dan senyum malu-malu. Akh,..rasanya aku ingin berlari menjauh saja. Rindu ini penyakit yang nyaris membunuhku. Tapi tangan mungil ini membuatku membatu. Membuatku tak bisa beranjak karena es krimnya yang meleleh kemana-mana mengotori tangan dan bajunya. Aku sibuk membantu tangan mungil itu membersihkan diri, sosok kecil yang kemudian memasang cengiran dengan giginya yang penuh noda es krim yang belepotan sampai mulut. Sesaat rasa rinduku hil...

Sunyi Diri

    Kadangkala,  Di waktu Hari menjadi lebih hening, dan hanya suara detikan jam dinding yang terdengar, aku mengembara. Pergi ke dunia tak berbatas, dan berlompatan senang. Girang betul hatiku, bagaikan seorang anak kecil yang berhasil menyelamatkan balon hijaunya agar tak meletus. Kadang sunyi menjadi kawan, dan sepi menjadi kegairahan. Betapa waktu berjalan begitu singkat, ingin sekali suatu hari aku mengulur waktu agar dia memanjang, melebihi batas pandangku sendiri. Paling tidak seperti saat-saat ini, aku tidak ingin waktu segera berakhir. Perandaian. Sayangnya, Waktu berjalan dengan ritme yang sama.  24 Jam. Tidak pernah berubah sedari dulu. Aku yang lambat laun berubah karena waktu. Menua dan akan tergerus oleh generasi-generasi baru. Kadang sunyi menjadi teman, dan sepi menjadi kerinduan.   Semilir, Klaten, Rabu 24 Oktober. 2.14 am

Dead for Nothing

Ini adalah puisi pertama saya yang saya buat dalam bahasa lain selain bahasa saya sendiri. Begitu saya mengaduk-aduk lagi file-file lama saya, saya cukup tertegun dan sedikit heran juga, ternyata saya bisa juga ya buat puisi beginian....*a big grin* Puisi yang saya tulis pada bulan November 2009 ini menceritakan mengenai seseorang yang menganggap bahwa dengan "mati" maka persoalan hidupnya akan selesai begitu saja. Akhirnya karena putus asa dengan ketidakadilan yang menjadi problematika hidupnya, seseorang yang menjadi tokoh utama dalam puisi ini memutuskan untuk mati dengan cara bunuh diri, dengan harapan dengan dia mati bunuh diri orang akan mengenal dan mengenangnya. Baiklah, silakan dinikmati sajian dari saya yang bertema sedikit "gelap" ini. Dead for Nothing Dead for nothing It seems you frightened to be alive Coz no one getting you in caring And you feel world likes full of scary and fear You disappear Like a magic dust, flying on the dusky murky night ...