Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

Rhapsody

Hujan rintik. Rhapsody di bulan November. Berhantaman. Satu sisi pertama, satu sisi kedua. Berhadapan. Garis vertical di depanku ini tak mau henti berkedip. Menyindirku mungkin dengan bibirnya yang nyiyir. Kembali lagi ke nol, dia bilang. Sembunyi-sembunyi tanpa bermaksud membuatku sakit hati. Putih memucat. Hitam pekat. Tapi dua saling memikat. Terikat. Bak sebuah cerita yang alunannya pelan-lambat. Maksud telah tersampaikan. Dengan jelas dan lantang iringan-iringan music yang terbawa oleh udara sontak berikrar. Seolah mereka ini adalah manusia yang bernyawa. Akh, paling tidak meski mereka mati nyawa mereka punya jiwa yang menyala-nyala, yang mampu bawa gelap ke terang. Tidak seperti manusia kebanyakan yang kenyang nyawa, tapi mati jiwa. Sempoyongan, membaca petunjuk, yang tak kunjung bersirat. Hanya guratan-guratan samar, tidak terbaca. Salah arah. Putar balik, ganti haluan. Berputar-putar, dan malah membuat sebuah rongga besar. Sempoyongan, membaca petunjuk, yang tak ku

Marzuki Alie, Masih Waraskah Anda?

kali ini saya ingin mem-post sebuah tulisan mbak Linda dari kompasiana. Tentang sebuah pernyataan seorang ketua DPR yang menurut saya tidak bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya, yang menurut saya kurang layak disebut sebagai seorang pejabat tinggi yang berperan mewakili rakyat dan digaji dengan uang rakyat. Saya tidak bermaksud menghakimi, karena saya sendiri juga manusia biasa yang masih perlu banyak belajar. Tapi ketua DPR gitu lho.....bukan cuma pekerja biasa yang mungkin bisa menyempatkan diri untuk ber-fesbukan di sela-sela waktu kerjanya...(sebenernya ini juga kurang bener-red). Baiklah berikut ini tulisan yang ditulis oleh seorang kawan. Marzuki Alie, Masih Waraskah Anda? Ini adalah surat terbuka untuk Marzuki Alie. Berlembar-lembar tisu sedari tadi mengusap butiran air mata saya ini, seorang Ibu dari satu anak yang sepanjang hari hidup berjuang mempertahankan sebuah kehidupan yang bermartabat, layak dan senantiasa minta berkah Tuhan secara baik. Tidakkah Anda

Sebuah Apel dan Dua Bungkus Mie Goreng Ukuran Jumbo

Siapa menyangka malam minggu yang biasanya tidak membuatku kelimpungan karena sendirian tanpa kawan, kali ini membuatku resah tanpa alasan. Malam ini kuputuskan untuk tidak pulang ke kampung halaman seperti yang sudah-sudah kulakukan tiap minggunya, aku masih tetap terpekur di sebuah ruangan berukuran 3x3m dengan televisi yang menyala cukup keras hingga mungkin cukup mampu membuat seekor semut menjadi tuli. Rumah kos kali ini sepi. Mungkin sebenarnya aku ditemani oleh hantu-hantu yang tidak punya nyali untuk unjuk diri, akh..mungkin sebaiknya juga mereka tidak menampakkan diri. Bisa kuajak mereka berdansa di bawah temaram bulan sampai pagi dan bisa-bisa aku tak sadarkan diri dan bangun di kamar mandi nanti. Terlalu beresiko, aku tidak punya cukup nyali untuk bangun dan mendapati diri basah di pagi hari. Acara pencarian bakat di televisi pun tak mampu usir rasa sepiku. Aku hanya menganggap orang-orang di dalamnya hanyalah sebuah gambar bergerak yang tidak bisa kuajak bicara. Bahkan

Madu dan Racun

Madu-Racun                                                                                                                      Begitulah, bahkan diantara  madu dan racun bisa jadi sebuah kesatuan yang unik. Tidak membunuh karakter satu sama lain, justru kadang-kadang perpaduan diantara keduanya bagai obat. Penyembuh bagi Si Sakit, penenang bagi Si Khawatir. Madu, begitu aku selalu memanggilnya Racun, begitu kamu sering memanggilku Malam ini, kami berdua kembali bercengkrama. Sampai pagi seperti biasanya yang kami lakukan. Hanya saja atmosfir kali ini terasa berbeda. Kedamaian. Hanya itu. Meski sesekali air mata sudah mendesak untuk unjuk diri. Tapi entahlah, aku merasa jeda yang mungkin akan ada ini bukanlah sesuatu yang perlu kukhawatirkan, aku merasa kamu masih ada di dekatku. Tidak pergi jauh. Terserah juga kalau akunya yang terlalu pede. Aku hanya bisa sumeleh, Madu. Aku hanya bisa beri kau rasaku. Aku jadi geli mengingat pembicaraanmu, Madu.

Dead for Nothing

Ini adalah puisi pertama saya yang saya buat dalam bahasa lain selain bahasa saya sendiri. Begitu saya mengaduk-aduk lagi file-file lama saya, saya cukup tertegun dan sedikit heran juga, ternyata saya bisa juga ya buat puisi beginian....*a big grin* Puisi yang saya tulis pada bulan November 2009 ini menceritakan mengenai seseorang yang menganggap bahwa dengan "mati" maka persoalan hidupnya akan selesai begitu saja. Akhirnya karena putus asa dengan ketidakadilan yang menjadi problematika hidupnya, seseorang yang menjadi tokoh utama dalam puisi ini memutuskan untuk mati dengan cara bunuh diri, dengan harapan dengan dia mati bunuh diri orang akan mengenal dan mengenangnya. Baiklah, silakan dinikmati sajian dari saya yang bertema sedikit "gelap" ini. Dead for Nothing Dead for nothing It seems you frightened to be alive Coz no one getting you in caring And you feel world likes full of scary and fear You disappear Like a magic dust, flying on the dusky murky night

November in Rain

Rainy days is coming back, in November. The stories about rain are coming and over. Rain is a long waiting period, a time which it could complete our silence when we need, and the smell of wet-ground is so romantic and makes a fresh sensation. I am taking a deep breath when rain came. Rain is my best friend, rain is my partner. I miss the song of rains. I was sitting in a coffee shop, with a cup of hot chocolate and Mozart’s melodies. The sounds of raindrops are like a song. A friend of mine reminded me to a rain story, to my old memories, played my mind. Rain makes me realize what is a life, search trough, finding, parting, tears, happy-laughed, friendship, and love also. Rain makes me alive; it could make me dealing with my past. Rain teaches me in the process of waiting, and patience. I learn about the price of leave-taking and get-together processing. My fingers stopped to make any move from my keyboard, when a waitress came with another cup of hot chocolate. ‘It is for free. B

WHERE WILL YOU GO TOMORROW, INDIE?

Sebuah tulisan yang sempat-hampir terbuang.... A. A History of Indie’s Music Emergence Indie was a group movement music based from anything ideas, without any manipulative. This genre could be counted as a reverse-current form for mainstream music. We could see the difference between mainstream genre and indie from the label making process. Mainstream music was a big stream having had a lot of bands under the big label, an established music industry. The mainstream genre bands were promoted spread expansively to the local and international community. The promotion dominated in all mass-media. Contrary to the mainstream genre, Indie music only located in certain community. The publishing were not routinely as a labeled-music. So, if we talked about the difference between indie and mainstream, we faced on the industry’s problem, the point was investment value produced by record company. Indie grew up in Indonesia Naturally. Initially, in 1970s, this genre was known as underground m

Hening-Cipta

Hening-Cipta Sebuah penciptaan muncul dari datangnya sebuah ilham. Sebuah petunjuk yang datang, bisa dari berbagai macam arah. Ketika kita sedang berdiam diri, berdiskusi dengan kebekuan dan mulut terkunci. Matamu berkaca. Tampak sebuah air mata akan jatuh dan membuat wajahmu jadi sembab. Tapi tidak, kau masih bertahan dengan senyum teduhmu yang malahan membuat mataku lebam karena isak tak mau berhenti. Hati manusia tidak pernah pasti. Kalaupun dibilang pasti hari ini, bukan tidak mungkin Ia akan bimbang di kemudian hari. Belajar dari Si Pasti. Dia tidak akan berganti. Meskipun banyak orang akan mencaci. Dia tetap teguh, percaya pada bisikan-bisikan halus yang mengetuk hatinya untuk tak berpaling. Setiap hari,akan kusuguhkan kau metamor-metamor alphabet ke dalam loker kerjamu. Akan kutemani kau dalam hening, dalam diam, dalam bekunya api. Kau berharga, Sayang. Tak pantas kau tersakiti dan pergi menyingkir. Lihatlah, sudah berapa banyak jari-jari ini menari melakukan pencip

Saling

Kukerahkan semua pikiranku untuk berangan. Kupaksakan semua filosofi hidup yang kupunya agar menghasilkan sebuah tulisan. Ada banyak upaya yang musti dilakukan agar semua asa rasa terbayar. Begitu banyak ruang yang ingin diselami. Tapi mungkin waktu tak cukup banyak memberi kompromi. Semua berdiri pada masing-masing pilar hati yang ada di dalam sak baju mereka. Tidak ada eksistensi. Pola mereka terbaca. Sama. Ritme dan perpaduan gerak langkahnya. Makin lama makin jelas. Aku jadi mengerti kenapa mereka saling berdiam dalam dentuman yang luar biasa keras dan memekakkan telinga. Aku cukup memahami. Akh…lagi-lagi memahami. Pemahaman yang berjalan satu arah. Terlalu banyak jeda antara aku dan mereka. Ruang bernyawa itu tak akan berarti apabila masing-masing dari kami tidak saling mengisi. Tidak saling memberi kekuatan, tidak saling berbicara. Kata saling menjadi kunci penting dalam tulisan ini. Sama seperti lari estafet, sekencang apapun kita berlari, sejauh apapun kita melaju bersa

Ujung dan Pangkal

Mungkin setelah pertemuan manis kita tadi malam,kau bergumul dengan asap-asap rokokmu. Kali ini, sepertinya kau butuh tak cukup sebungkus, Sayang. Pikiranmu berjalan ke tengah bertemu pada sebuah persimpangan. Persimpangan itu sama-sama membuatmu berarti, dalam porsi yang beda memang. Tapi membuat duniamu sama berwarnanya. Meski dia mungkin lebih suka beri warna violet sementara aku warna-warna primer yang pun bisa kau olah menjadi warna favoritmu. Aku tidak yakin malam ini kantuk mampu mengganggumu. Rasa-rasanya, rasa kantuk yang kau perlihatkan tadi hanyalah cara anggun untuk mengatakan padaku bahwa kamu ingin segera beristirahat dan sebaiknya aku segera pulang. Aku tahu, cintamu yang begitu besar untuknya membuatmu takut untuk menyakitiku. Tapi bukankah, masing-masing dari kita semua tak pernah mengenal definisi cinta yang sebenarnya. Tidak aku, tidak juga kamu. Mungkin juga definisi cinta dalam pikiran kita ini pun tak sama, tapi sejak kapan pikiran punya hak paling besar untuk m

Lelap

Malam ini,sebuah keheningan tak jua mampu pindahkan kiblat pada sebuah penyampaian maksud.Ingin napas ini terhenti,ketidakberanian hadapi sebuah ketidaktahuan. Aku ini pengecut, kataku. Kau tahu, aku tidak ingin malam ini berakhir..... Tanah lapang, penuh dengan pekikan-lengkingan suara gaduh di ujung jalan. Suara-suara tak berirama, mungkin sebuah hentakan tak bisa selaras dengan nada indah do re mi fa so la. Mungkin memang tak harus diatur sedemikian rupa. Sinar-sinar temaram lampu di pinggir jalan pijarkan sebuah aroma wewangian. Ya, aku tahu itu wangimu..tak perlu aku harus mendekat, indera penciumanku mampu mengenali baumu yang khas meski dalam kejauhan sekalipun. Tembok putih, kanan-kiri. Di tanah lapang ini, ku lihat kau tertidur pulas. Baguslah, paling tidak hari ini kau biarkan tubuhmu istirahat. Terbaring sejenak menikmati keheningan samar. Aku tahu, ketenangan dalam lelapmu sudah lama kau rindukan, karena itu ku tak mau ganggu dengan suara-suara ributku. istirahatlah..

Padang Merah Hati

Sebuah petunjuk. Perenungan ini makin terasa mendalam. Semua serba pas. Kau hadir di tengah keraguan dan kegamangan. Rupa-rupanya semua tidak harus selalu ada jawabnya, tidak harus ada maksud untuk setiap kejadian. Aku tak lagi ingin menangis. Tidak hari ini. Setiap inchi rasamu mulai tumbuh. Kubenamkan diri dalam kasur yang lapuk. Imajinasi membumbung tinggi, ingin sekali kuhentikan, siapa tahu nanti jadi kebablasan dan tertiup angin di tengah riuhnya pikuk dan sibuk. Dua sejoli, beradu manis-pahit rasa tembakau, di antara kepulan putih asap rokok saling bersirobok. Desing desau memekakkan telinga, membuat debar jantung jadi makin cepat. Aku tahu kamu peduli. Ingin menjadi sebuah sinar terang yang tidak menyilaukan, yang cahayanya bisa diatur sedemikian rupa, agar ku tak membuat matamu jadi sakit, tak membuat langkahmu jadi terhenti. Hangat. Aku ingin menjadi sinar yang hangat. Sinar berpendarnya tak membuat gamang, tak juga remang. Sebuah petunjuk. Datang membawa arak-arak

Berawal dari sebuah awal

Stagnan! Aku tidak tahu lagi harus menulis kata-kata seperti apa. Lembaran di hadapanku masih sama kosong dengan lembaran yang kau miliki. Akhirnya karena kita sama-sama penat, kita pandangi saja lembaran kosong itu sambil menyeruput teh yang pun mendingin. Lembaran kosong itu membuat kita berpikir, membuat kita saling kerutkan dahi. Kita berpandangan, menghela napas, membuat debu-debu terbang menjauh. Kamu kehabisan ide. Begitu pula aku. Kau mulai hentikan tarian jemarimu di atas kibor. Kau duduk termangu, sambil menyalakan pemantikmu. Akh, kamu mulai lagi bergumul dengan kepulan asap rokokmu. Kau pergi untuk membuka pintu teras belakang, kau butuh asupan udara segar, Sayang. ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ Kita ini selalu bersama. Kita adalah bagian dari ujung dan pangkal yang bertemu, kita adalah dua jarum jam yang tak akan berarti bila tidak disatukan dalam kotak kaca-angka yang sama. Kita seirama, kita seia, kita satu nada. Tak ada kau berarti bersiaplah untuk sumbang. Hidupk

SANGIRA

Sangira Sang, Hujan mau datang lagi. Sudikah kiranya dirimu antarku pulang? Sang, kukecilkan pakaian-pakaian longgarmu, ambillah, sudah kutaruh di almari. Aku mau pulang, Sang. Aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini. Di tempat ini. Aku takut, Sang. Tempat ini sudah sangat berbeda, kita tidak bisa lagi main-main dengan Hujan seperti dulu. Masih ingatkah engkau pada bunyi kecipak-cipak air yang main lompat di kubangan lumpur, Sang? Aku rindu. Aku mau pulang, Sang…. Seperti memang sudah berjodoh, aku bertemu lagi dengan laki-laki berkemeja garis-garis biru yang kemarin aku temui di sebuah toko kue. Dia tengah kebingungan mencari sebuah kue ulang tahun yang katanya untuk seseorang yang spesial. Untuk pacarnya kurasa. Tapi siapapun perempuan itu sudah pasti dia beruntung sekali. Bagaimana tidak, laki-laki itu terlihat begitu sangat perhatian, peduli, dan rasa sayang yang diperlihatkan pada muka bingungnya ketika mencari kue ulang tahun yang pas untuk seseorang istimewanya itu membuatk

Sebuah esai tentang kebudayaan bersifat simbolik

Di sebuah stasiun TV Swasta terlihat ada sebuah penayangan mengenai kehidupan sebuah suku yang masih kental dengan keprimitifannya. Sebut saja salah satu suku di Afrika. Tampak di sana sekelompok manusia berpakaian seadanya, sedang duduk mengelilingi api unggun. Kepala suku mereka sedang menceritakan kepada anggota kelompoknya yang lain, menceritakan mengenai sebuah batu yang tiba-tiba saja terlempar dari arah gunung berkapur hingga hampir membuatnya celaka, hingga detik itu juga dia, selaku kepala suku di sana menyatakan bahwa benda tersebut adalah ‘benda jahat atau benda setan’. Simbol tersebut dia gunakan sebagai bentuk kekhawatirannya terhadap anggota kelompoknya yang lain, sehingga mendorong agar anggota yang lain selalu waspada. Bentuk pengungkapan itu membudaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Hingga kemudian manusia menjadi lebih pandai dan cerdas hingga benda yang disebut-sebut sebagai benda jahat itu hanyalah sebuah bongkahan batu yang secara tidak sengaja terlempa

Cerita Tentang Satu Hari

Cerita Tentang Satu Hari Aku ingin berbagi cerita padamu, kali ini. Meski cuma sehari. Baiklah, sepertinya cukup untuk hari ini. Hari kita bersantap ria kudapan yang ada di hadapan. Meski hanya sekedar sebatang coklat dan keripik kentang, tapi lumayanlah untuk mengganjal perut. Atau paling tidak kita harus berterimakasih pada kudapan ringan itu, karena telah berhasil membuat suasana bisu menjadi riuh, karena suara berisik yang dihasilkan oleh kunyahan-kunyahan mulut kita membuat suasana menjadi seru. Paling tidak, hari ini, aku ingin kau mengenang hari ini. Yang bisa saja suatu hari nanti menjadi tidak lagi berarti atau mungkin tetap selalu menjadi misteri, yang masing-masing hanya kita yang tahu. Semilir datang lagi, kali ini dia datang dengan senyum sumringahnya, yang membuat rerumputan berlonjakan riang dan air-air di kubangan sisa hujan semalam menjerit senang. Kamu tahu, ini kali pertama si Sunyi pergi mengembara. Ke sebuah negeri jauh, tersembunyi di antara pohon perdu. Saat

GADIS PUKUL SEBELAS SIANG

GADIS PUKUL SEBELAS SIANG Seorang gadis berbaju coklat sedang duduk termenung sendirian di pojokan sebuah kedai kopi. Dia diam dan pandangannya terlihat kosong. Seperti sudah bosan hidup. Tak ada gairah dan semangat untuk menghadapi matahari yang sedang memanas siang ini. Sebuah kopi espresso , berbuih dan panas menemaninya dengan setia. Cukup aneh untuk siang bolong yang gerah seperti sekarang. Dia diam. Menatap pada kepulan panas di hadapannya. Hanya menatap. Tak ada hasrat untuk mencicipinya, meski hanya seseruputan. Mungkin karena masih panas. Entahlah. Aneh sekali gadis itu. Paling tidak dalam penglihatanku dia terlihat tidak biasa. Ada sesuatu yang ganjil dari dirinya. Dia sendiri sadari atau tidak. Dia mengaduk-aduk espresso-nya tanpa maksud yang jelas. Sesekali dia mengernyitkan dahi, dan tersenyum, entah karena apa. Lalu kulihat dia menitikkan air mata. Untuk gadis semanis dia, tak pantas air mata keluar dari matanya. Entah karena rasa empatiku atau memang karena ra