Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label curhat

Langkahkan Kakimu dan Luaskan Pandanganmu

    Ada banyak kota di dunia ini yang bisa saja saya tulis dan saya rangkai untuk kemudian menjadi tokoh utama dalam tulisan ini. Sayangnya, ternyata urusan memilih kota impian itu tidak lah semudah seperti memilih baju mana yang hendak dipakai di dalam tumpukan baju yang belum disetrika. Njlimet saya tuh orangnya… :D Eropa, US, Canada, Oz, New Zealand, Egyptian, Southern Asia, hingga East Asia macam Seoul, Japan, negara dan kota yang nge-hits belakangan karena faktor serial drama-dramanya   juga tak membuat saya lantas menisbahkan mereka untuk menjadi salah satu kota yang ingin saya kunjungi. Ya seneng juga melihat beberapa teman sudah banyak yang berhasil menapaki diri ke sana, entah karena pekerjaan, karena sekolah, karena usaha kerasnya sedari dulu, karena memenangkan undian, atau yang karena dapat bonus dari usahanya mengejar poin, bahkan ada juga yang karena pasangannya horang tajir melintir, akhirnya kesempatannya untuk bisa bepergian keliling Indo...

BEKAL PERJALANAN

    Vadin anak saya, sangat senang berkereta. Bahkan, seminggu tiga kali kami bepergian dengan menggunakan kereta api prambanan ekspress  (Prameks) untuk bertemu, bermain dan berpetualang bersama dengan teman-teman kecilnya. Ya, sudah satu tahun ini Vadin bermain dan belajar di sebuah sekolah yang berpuluh kilometer jauhnya dari rumah. Banyak orang berpikir bahwa saya terlalu memaksakan, beranggapan kalau saya ini aneh atau bahkan terlampau ambisius. Banyak orang tidak mengerti bahwa sekolah ini memang layak untuk perkembangan Vadin anak saya, yang akan membuat dia selalu bergembira dan bersenang-senang sepanjang hari tanpa beban, tidak seperti sekolah pada umumnya yang melulu dengan gedung bertingkat dan berpagar tinggi, bermateri berat, ini adalah sekolah biasa. Tanpa pagar dan berada di tengah-tengah sawah, bahkan para murid bebas merajut materi kelasnya sendiri. Kadang saya harus menggambarkan kepada orang lain bahwa sekolah ini mirip dengan cerita Totto-Chan. B...

Akhir Tahun Dan Sebuah Resolusi

  Akhir Tahun Dan Sebuah Resolusi Akhir Tahun sepertinya kurang sedap kalo saya tidak sedikit ngembleh di blog. Lagi- lagi kelamaan vakum karena sibuk ngarit, hahahha bilang saja sedang musuhan sama laptop, karena jam-jam prime time untuk menulis, laptop diserobot sama anak saya yang cakepnya ga ketulungan ;D Terakhir saya posting bulan November ya? Atau Oktober? Hahahaha saya sendiri lupa. Luar biasa.   Tepuk tangan sodara-sodara. Ada banyak hal yang terlewati, yang terjadi, ada juga yang mugkin tidak perlu lagi diungkit-ungkit. Di akhir tahun ini saya harus sudah mulai memantapkan   hati, ‘ mau menjadi apa saya?’   Ini seolah seperti sebuah epic dalam buku cerita bergambar milik Vadin yang berjudul, ‘ingin jadi apa kau nanti?’ Ini sudah kesekian tahun saya bingung melangkahkan kaki dan memantapkan hati. Ini bukan soal bekerja atau tidak bekerja ya sodaraku. Tapi mungkin lebih kepada mengikuti kemana passion hidup saya ini sebetulnya. Sedi...

OBROLAN BODOH tentang JODOH

OBROLAN BODOH tentang JODOH Baru kali ini aku menulis dengan membuat judulnya terlebih dahulu. Jodoh dan bukan bodoh. Sudah cukup banyak aku menulis tentang kebodohan-kebodohan yang terjadi. Mungkin ini waktunya aku bisa bermain dengan sesuatu yang membuat hidup berwarna-warni. Jodoh.(mungkin menuliskan topic ini pun sudah menjadi kelihatan bodoh juga :P) Sampai saat ini, jujur saja, aku masih tidak mengerti bagaimana kinerja Tuhan mempertemukan dua orang manusia dan memberikan cinta satu sama lain diantaranya. Bagaimana semesta mengamini sepasang manusia untuk berikrar dan kemudian mengikatkan diri untuk menjadi partner hidup selamanya. Ternyata setelah kualami perjalanan demi perjalanan kisah asmaraku (eheem) aku tetap saja masih bingung. Aku bisa bilang, dulu aku juga merasa jatuh cinta dengan seseorang, bahkan sampai meraung-raung bak sirene aku menangis berhari-hari karena merindukan kekasih yang telah pergi. Bagaimana tidak ketika perjalanan itu tidak berhenti sampai di s...

ALANG LIAR

ALANG LIAR Hari ini pikiranku terbang kemana-mana. Tanpa jeda. Seolah dunia itu hanya selembaran kertas berpetak yang luasnya tidak seberapa. Kuyakini saja seperti itu. Pikiran bercabang ternyata tidak selamanya buruk, begitu yang kurasakan.Hanya saja, bikin otak cepat mati beku. Andai raga ini mampu membelah diri menjadi beberapa bagian seperti halnya bakteri ato amoeba mungkin kisah hari ini akan berbeda. Tapi apa iya sedemikian murahnya hidup hingga mau saja bertukar kehidupan dengan mahkluk yang tidak bisa terlihat tanpa bantuan alat tersebut? Apa iya itu artinya aku haruslah bersyukur dan menerima saja semua hal ini tanpa protes, karena masing-masing manusia memiliki proses yang naik-turun dan rumit untuk dihadapi. Benarkah setiap kesedihan akan terbayar dengan kebahagiaan setelahnya, dan berlaku juga sebaliknya? Wow, sungguh luar biasa! Selalu ada saja hal yang dibayar sesudahnya. Ada akibat, ada sebab. Hidup pun menjadi penuh dengan tawar-menawar. Adegan demi adegan dilakuka...

KOPER

Saya tidak mengerti kenapa dulu saya bersikukuh untuk membeli koper ini. Koper ini besar, sangat besar. Ponakan perempuan saya berumur dua tahun pun bisa masuk ke dalamnya. Saya tidak juga akan bepergian ke tempat-tempat yang jauh. Tidak dalam waktu dekat. Saya sih ada keinginan untuk bisa melancong dan memfungsikan koper itu. Tapi saya jadi kembali berpikir, kalau saya hanya pergi melancong satu hingga dua hari ke suatu tempat, pastilah koper ini terlalu besar, dan berat tentunya. Serba salah. Apa saya beli karena dulu sedang ramai ada diskon?? Saya juga lupa dan lagi-lagi pertanyaannya adalah kenapa saya membeli yang segedhe gaban ini? Koper ini bagus, dan cukup mewah, hanya sayang sekarang teronggok tanpa saya pernah memakainya barang sekalipun mungkin karena koper ini terlalu besar. Sudah hampir empat tahun ini. Paling si Kakak yang lebih kerap memakainya barang sekali dua kali ketika dia pergi wara-wiri ke Jakarta. Tugas kantor katanya. Akh, kalo saya jadi si Koper, pastilah say...

Sebuah Apel dan Dua Bungkus Mie Goreng Ukuran Jumbo

Siapa menyangka malam minggu yang biasanya tidak membuatku kelimpungan karena sendirian tanpa kawan, kali ini membuatku resah tanpa alasan. Malam ini kuputuskan untuk tidak pulang ke kampung halaman seperti yang sudah-sudah kulakukan tiap minggunya, aku masih tetap terpekur di sebuah ruangan berukuran 3x3m dengan televisi yang menyala cukup keras hingga mungkin cukup mampu membuat seekor semut menjadi tuli. Rumah kos kali ini sepi. Mungkin sebenarnya aku ditemani oleh hantu-hantu yang tidak punya nyali untuk unjuk diri, akh..mungkin sebaiknya juga mereka tidak menampakkan diri. Bisa kuajak mereka berdansa di bawah temaram bulan sampai pagi dan bisa-bisa aku tak sadarkan diri dan bangun di kamar mandi nanti. Terlalu beresiko, aku tidak punya cukup nyali untuk bangun dan mendapati diri basah di pagi hari. Acara pencarian bakat di televisi pun tak mampu usir rasa sepiku. Aku hanya menganggap orang-orang di dalamnya hanyalah sebuah gambar bergerak yang tidak bisa kuajak bicara. Bahkan ...