Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label opinion

Langkahkan Kakimu dan Luaskan Pandanganmu

    Ada banyak kota di dunia ini yang bisa saja saya tulis dan saya rangkai untuk kemudian menjadi tokoh utama dalam tulisan ini. Sayangnya, ternyata urusan memilih kota impian itu tidak lah semudah seperti memilih baju mana yang hendak dipakai di dalam tumpukan baju yang belum disetrika. Njlimet saya tuh orangnya… :D Eropa, US, Canada, Oz, New Zealand, Egyptian, Southern Asia, hingga East Asia macam Seoul, Japan, negara dan kota yang nge-hits belakangan karena faktor serial drama-dramanya   juga tak membuat saya lantas menisbahkan mereka untuk menjadi salah satu kota yang ingin saya kunjungi. Ya seneng juga melihat beberapa teman sudah banyak yang berhasil menapaki diri ke sana, entah karena pekerjaan, karena sekolah, karena usaha kerasnya sedari dulu, karena memenangkan undian, atau yang karena dapat bonus dari usahanya mengejar poin, bahkan ada juga yang karena pasangannya horang tajir melintir, akhirnya kesempatannya untuk bisa bepergian keliling Indo...

KEBIJAKAN BERSEKOLAH 8 JAM

💗💗💗     Sebagian besar Ibu sejagat Indonesia Raya pastilah saat ini sedang dipusingkan oleh kebijakan dari Kementerian pendidikan dan kebudayaan yang dalam kebijakannya akan menerapkan sekolah 8 jam setiap harinya untuk periode tahun ajaran 2017/2018 mendatang. Belum soal penerimaan siswa baru yang semrawut di tingkat daerah, ini ditambah dengan kebijakan pak mentri pendidikan yang saban tahun seringnya berubah. Kadang kita (para ibu) suka gedek, ini anak-anak mau dibawa kemana dan jadi apa nantinya. Betul, ngobrolin pendidikan anak-anak itu sampai 7 juta likes juga ga akan ada habisnya. Akan terus berkelanjutan bahkan mungkin hingga sudah ditemukan planet lain selain bumi yang bisa untuk dihuni. Setelah saya pahami dan alami selama puluhan tahun bersekolah, sekolah bukanlah tempat untuk mencari ilmu, melainkan ijasah. Betul ga? *nah silakan dianalisis ya betul salahnya, jangan langsung percaya dengan pemaparan saya yang bisa aja kepleset* buktikan sen...

Kantong Mimpi

Kalau kamu punya begitu banyak mimpi sementara kamu hanya memiliki satu buah keranjang ukuran sedang untuk menampung semua mimpi-mimpimu dan ternyata keranjang tersebut tidak cukup muat untuk menampung semua, apa yang akan kamu lakukan? Baiklah kalau pertanyaan itu dikembalikan pada saya, maka jawaban saya tidak sederhana, tapi juga tidak rumit. Saya tidak akan menjawab dengan jawaban; saya akan memenuhi keranjang itu sesuai dengan kapasitas tampungnya, karena saya pikir mimpi tidak bergantung dari kapasitas seseorang untuk mampu menampungnya, mimpi itu bisa lebih besar dan boleh lebih besar dari kapasitas kita, sama seperti seekor semut yang bahkan mampu membawa beban sepuluh kali lipat lebih besar dari berat badannya. Saya tidak akan menjawab bahwa saya akan mengurangi jumlah mimpi saya, atau bahkan memenuhi keranjang itu sampai benar-benar penuh, bahkan kalau perlu saya menjejalkan semua mimpi itu sampai menggunung. Baiklah saya egois pada kasus ini, saya tidak mau mengur...

Obrolan Meja Makan

Pelaku : Babe dan saya Waktu : jam makan malam Tempat : di ruang makan Selepas makan, saya menceritakan kegiatan saya pagi itu pada babe yang duduk di seberang saya. Pagi itu saya bersama seorang teman pergi ke SMA-SMA di kota saya untuk menyebarkan brosur dan mencoba bertemu dengan guru BK dari masing-masing sekolah tersebut. Target kami pada saat itu hanya pada enam sekolah. Saya tertarik dengan sebuah percakapan saya dengan salah seorang guru BK, yang kemudian menjadi topik yang saya sampaikan kepada babe. Hal ini berkaitan dengan ujian nasional. Ternyata, sekarang ini sistem ujian nasional sudah berhasil diubah dan membuat para siswa sekaligus orang tua siswa tidak lagi khawatir, pasalnya sistem yang sekarang ini memungkinkan sekali siswa lulus 100% karena hasil akhir merupakan hasil bagi rata antara jumlah hasil ujian nasional dan juga ujian sekolah. Presentase 60 % diambil dari ujian nasional dan sisanya dari ujian sekolah. Lalu apa yang menarik dari perbincangan anta...

Kontrak Kehidupan

Sampai sekian detik ini saya masih mencoba menelaah kembali kontrak hidup saya dengan Tuhan. Hanya masalahnya muncul ketika saya sama sekali tidak menahu tentang isi dari kontrak yang sudah saya tanda tangani waktu itu. Jadi saya gambarkan pada waktu itu Tuhan berkata dengan bijak kepada saya “ Kamu siap-siap ya dengan tugas dan kewajibanmu sebagai manusia di dunia…” Lalu Tuhan menyodorkan sebuah kontrak kosong, berikut beserta materai yang tidak perlu diragukan lagi keabsahan dan nilai hukumnya. “Kenapa kosong, Tuhan?” Saya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. “Sayang, lembaran ini Aku biarkan kosong supaya kamu bisa memberi warna-warna di atasnya secara bebas.” “Bebas?” Saya kembali bertanya. Tuhan pun mengangguk. “Jadi jika saya hanya ingin melipatnya saja dan memasukkannya ke dalam saku saya, itu juga tak apa,Tuhan?” kata saya lagi. “Tidak apa, Sayang. Hanya saja kau tidak akan pernah belajar apapun nantinya.” Nah, setelah dua puluh tahunan sudah saya kembali ...

Marzuki Alie, Masih Waraskah Anda?

kali ini saya ingin mem-post sebuah tulisan mbak Linda dari kompasiana. Tentang sebuah pernyataan seorang ketua DPR yang menurut saya tidak bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya, yang menurut saya kurang layak disebut sebagai seorang pejabat tinggi yang berperan mewakili rakyat dan digaji dengan uang rakyat. Saya tidak bermaksud menghakimi, karena saya sendiri juga manusia biasa yang masih perlu banyak belajar. Tapi ketua DPR gitu lho.....bukan cuma pekerja biasa yang mungkin bisa menyempatkan diri untuk ber-fesbukan di sela-sela waktu kerjanya...(sebenernya ini juga kurang bener-red). Baiklah berikut ini tulisan yang ditulis oleh seorang kawan. Marzuki Alie, Masih Waraskah Anda? Ini adalah surat terbuka untuk Marzuki Alie. Berlembar-lembar tisu sedari tadi mengusap butiran air mata saya ini, seorang Ibu dari satu anak yang sepanjang hari hidup berjuang mempertahankan sebuah kehidupan yang bermartabat, layak dan senantiasa minta berkah Tuhan secara baik. Tidakkah Anda ...

November in Rain

Rainy days is coming back, in November. The stories about rain are coming and over. Rain is a long waiting period, a time which it could complete our silence when we need, and the smell of wet-ground is so romantic and makes a fresh sensation. I am taking a deep breath when rain came. Rain is my best friend, rain is my partner. I miss the song of rains. I was sitting in a coffee shop, with a cup of hot chocolate and Mozart’s melodies. The sounds of raindrops are like a song. A friend of mine reminded me to a rain story, to my old memories, played my mind. Rain makes me realize what is a life, search trough, finding, parting, tears, happy-laughed, friendship, and love also. Rain makes me alive; it could make me dealing with my past. Rain teaches me in the process of waiting, and patience. I learn about the price of leave-taking and get-together processing. My fingers stopped to make any move from my keyboard, when a waitress came with another cup of hot chocolate. ‘It is for free. B...

WHERE WILL YOU GO TOMORROW, INDIE?

Sebuah tulisan yang sempat-hampir terbuang.... A. A History of Indie’s Music Emergence Indie was a group movement music based from anything ideas, without any manipulative. This genre could be counted as a reverse-current form for mainstream music. We could see the difference between mainstream genre and indie from the label making process. Mainstream music was a big stream having had a lot of bands under the big label, an established music industry. The mainstream genre bands were promoted spread expansively to the local and international community. The promotion dominated in all mass-media. Contrary to the mainstream genre, Indie music only located in certain community. The publishing were not routinely as a labeled-music. So, if we talked about the difference between indie and mainstream, we faced on the industry’s problem, the point was investment value produced by record company. Indie grew up in Indonesia Naturally. Initially, in 1970s, this genre was known as underground m...

Sebuah esai tentang kebudayaan bersifat simbolik

Di sebuah stasiun TV Swasta terlihat ada sebuah penayangan mengenai kehidupan sebuah suku yang masih kental dengan keprimitifannya. Sebut saja salah satu suku di Afrika. Tampak di sana sekelompok manusia berpakaian seadanya, sedang duduk mengelilingi api unggun. Kepala suku mereka sedang menceritakan kepada anggota kelompoknya yang lain, menceritakan mengenai sebuah batu yang tiba-tiba saja terlempar dari arah gunung berkapur hingga hampir membuatnya celaka, hingga detik itu juga dia, selaku kepala suku di sana menyatakan bahwa benda tersebut adalah ‘benda jahat atau benda setan’. Simbol tersebut dia gunakan sebagai bentuk kekhawatirannya terhadap anggota kelompoknya yang lain, sehingga mendorong agar anggota yang lain selalu waspada. Bentuk pengungkapan itu membudaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Hingga kemudian manusia menjadi lebih pandai dan cerdas hingga benda yang disebut-sebut sebagai benda jahat itu hanyalah sebuah bongkahan batu yang secara tidak sengaja terlempa...