Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label refleksi

BEKAL PERJALANAN

    Vadin anak saya, sangat senang berkereta. Bahkan, seminggu tiga kali kami bepergian dengan menggunakan kereta api prambanan ekspress  (Prameks) untuk bertemu, bermain dan berpetualang bersama dengan teman-teman kecilnya. Ya, sudah satu tahun ini Vadin bermain dan belajar di sebuah sekolah yang berpuluh kilometer jauhnya dari rumah. Banyak orang berpikir bahwa saya terlalu memaksakan, beranggapan kalau saya ini aneh atau bahkan terlampau ambisius. Banyak orang tidak mengerti bahwa sekolah ini memang layak untuk perkembangan Vadin anak saya, yang akan membuat dia selalu bergembira dan bersenang-senang sepanjang hari tanpa beban, tidak seperti sekolah pada umumnya yang melulu dengan gedung bertingkat dan berpagar tinggi, bermateri berat, ini adalah sekolah biasa. Tanpa pagar dan berada di tengah-tengah sawah, bahkan para murid bebas merajut materi kelasnya sendiri. Kadang saya harus menggambarkan kepada orang lain bahwa sekolah ini mirip dengan cerita Totto-Chan. B...

REFLEKSI

    Barangkali setiap kelahiran itu adalah penantian, adalah harapan. Atau barangkali kelahiran itu melelahkan karena mungkin kita selalu dibuat lupa akan sejatinya diri dan harus menunggu hingga saat kesadaran itu datang, membuka batin kita untuk tersedu kemudian. Atau menyadarkan bahwa kita itu sedemikian kecil di antara partikel-partikel lain di semesta raya ini. Kita mungkin kecil, kita mungkin tak lebih dari debu, tapi kita juga bisa menjadi berarti. Mencari arti hidup. Mungkin itulah kelahiran. Pencarian. Bertambah usia tak lantas menjadikan manusia itu makin dewasa, makin mengerti dan makin paham. Banyak juga yang makin tua makin pelupa, Lupa bahwa dia dulu juga melalui proses menjadi bayi yang sedang belajar melihat, belajar mendengar, dan belajar berbicara. Lupa bahwa kita dulu berawal dari raga yang tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis dan sesekali mengoceh. Insting seseorang ketika menjadi bayi mungkin lebih tajam daripada kala mereka ber...

Membaca Karya Dee--Supernova : AKAR

        Membaca Karya Dee , saya baru saja berhasil menyelesaikan buku dewi Lestari supernova berjudul Akar di awal tahun ini ( ini sebuah hal yang sangat membanggakan lho—paling tidak menurut saya, you know , IRT dengan kesibukan tingkat tinggi, bisa mandi tanpa gedoran pintu dari anak dan teriakannya “sudah belum bu? Ayo temenin   aku maen” itu saja sudah Alhamdullilah …T_T Saya mengenal karya Dee sejak duduk di bangku SMP, waktu itu Supernova sudah mem- booming dengan judul Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Tapi waktu itu saya benar-benar tidak mampu menjangkau arah tulisan dan gaya tulisan Dee, mungkin karena saat itu saya masih ABG labil, jadi cerita-cerita berat dengan bahasa yang melangit tidak bisa dijangkau oleh akal saya. ( bilang aja masih cethek mikirnya..-LOL) Jadi saya hanya sebatas membaca—bukunya pun juga hanya pinjam ke salah seorang senior saya. Sampai di bagian tengah buku, saya lalu menutupnya, menguap, lalu saya ...

Akhir Tahun Dan Sebuah Resolusi

  Akhir Tahun Dan Sebuah Resolusi Akhir Tahun sepertinya kurang sedap kalo saya tidak sedikit ngembleh di blog. Lagi- lagi kelamaan vakum karena sibuk ngarit, hahahha bilang saja sedang musuhan sama laptop, karena jam-jam prime time untuk menulis, laptop diserobot sama anak saya yang cakepnya ga ketulungan ;D Terakhir saya posting bulan November ya? Atau Oktober? Hahahaha saya sendiri lupa. Luar biasa.   Tepuk tangan sodara-sodara. Ada banyak hal yang terlewati, yang terjadi, ada juga yang mugkin tidak perlu lagi diungkit-ungkit. Di akhir tahun ini saya harus sudah mulai memantapkan   hati, ‘ mau menjadi apa saya?’   Ini seolah seperti sebuah epic dalam buku cerita bergambar milik Vadin yang berjudul, ‘ingin jadi apa kau nanti?’ Ini sudah kesekian tahun saya bingung melangkahkan kaki dan memantapkan hati. Ini bukan soal bekerja atau tidak bekerja ya sodaraku. Tapi mungkin lebih kepada mengikuti kemana passion hidup saya ini sebetulnya. Sedi...

sebuah REFLEKSI

    Menulis apa hari ini? Semakin hari semakin dibuat bingung, hendak menulis apakah hari ini? Padahal, sebetulnya ada banyak hal yang bisa untuk diceritakan. Mungkin ada bagusnya saya membuat komit terhadap diri sendiri. Satu hari satu tulisan refleksi. Satu hari meluangkan waktu sebentar untuk berefleksi. Mungkin saja, di sela-sela jari kita yang mengetikkan kata-kata pada kibor, tiba-tiba semesta memberikan wasilah nya melalui tarian-tarian jari kita. Setiap saya berangkat naik kereta mengantarkan Vadin bersekolah, saya bertemu dengan berbagai macam pengalaman. Sayangnya, pengalaman tersebut tidak lantas saya tuangkan ke dalam bentuk tulisan sehingga menguaplah segalanya. See, being commit is not always easy . L ( paling tidak dalam kasus saya) Ada satu pertanyaan yang kerap dilontarkan orang-orang pada kami, bahkan driver Go-Car yang sering kami pakai untuk mempermudah akses kami menuju ke sekolah setibanya kami di Stasiun. “Kok sekolah aja m...