Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Moe Naik Kereta Prameks

      Moe adalah anak yang bersemangat. Setiap hari Senin, Rabu dan Jumat dia bersama ibunya berangkat ke sekolah berkereta. Jarak rumahnya dengan sekolah kira-kira tigapuluh delapan kilometer jauhnya. Meskipun Moe harus menunggu empat puluh menit perjalanan, dia tidak merasa bosan karena menurut Moe bersekolah dengan naik kereta adalah petualangan. Moe belajar mengantri untuk bisa memperoleh tiket. Moe belajar untuk memberi kesempatan penumpang lain turun terlebih dahulu sebelum dia mulai naik. Moe pun mengerti bahwa ada saatnya dia harus memberikan bangkunya kepada penumpang lain yang mendapat prioritas duduk.   Seperti kakek nenek, seseorang yang terluka, ibu hamil, atau ibu yang sedang menggendong adek bayi. Berkereta membuat Moe belajar untuk menghormati kebutuhan orang lain. Di dalam kereta, Moe mengamati ada penumpang yang bertubuh besar, ada yang bertubuh sedang, ada juga yang kecil. Ada penumpang yang berambut ikal, keriting, lurus, ba...

Berawal dari sebuah awal

Stagnan! Aku tidak tahu lagi harus menulis kata-kata seperti apa. Lembaran di hadapanku masih sama kosong dengan lembaran yang kau miliki. Akhirnya karena kita sama-sama penat, kita pandangi saja lembaran kosong itu sambil menyeruput teh yang pun mendingin. Lembaran kosong itu membuat kita berpikir, membuat kita saling kerutkan dahi. Kita berpandangan, menghela napas, membuat debu-debu terbang menjauh. Kamu kehabisan ide. Begitu pula aku. Kau mulai hentikan tarian jemarimu di atas kibor. Kau duduk termangu, sambil menyalakan pemantikmu. Akh, kamu mulai lagi bergumul dengan kepulan asap rokokmu. Kau pergi untuk membuka pintu teras belakang, kau butuh asupan udara segar, Sayang. ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ Kita ini selalu bersama. Kita adalah bagian dari ujung dan pangkal yang bertemu, kita adalah dua jarum jam yang tak akan berarti bila tidak disatukan dalam kotak kaca-angka yang sama. Kita seirama, kita seia, kita satu nada. Tak ada kau berarti bersiaplah untuk sumbang. Hidupk...

SANGIRA

Sangira Sang, Hujan mau datang lagi. Sudikah kiranya dirimu antarku pulang? Sang, kukecilkan pakaian-pakaian longgarmu, ambillah, sudah kutaruh di almari. Aku mau pulang, Sang. Aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini. Di tempat ini. Aku takut, Sang. Tempat ini sudah sangat berbeda, kita tidak bisa lagi main-main dengan Hujan seperti dulu. Masih ingatkah engkau pada bunyi kecipak-cipak air yang main lompat di kubangan lumpur, Sang? Aku rindu. Aku mau pulang, Sang…. Seperti memang sudah berjodoh, aku bertemu lagi dengan laki-laki berkemeja garis-garis biru yang kemarin aku temui di sebuah toko kue. Dia tengah kebingungan mencari sebuah kue ulang tahun yang katanya untuk seseorang yang spesial. Untuk pacarnya kurasa. Tapi siapapun perempuan itu sudah pasti dia beruntung sekali. Bagaimana tidak, laki-laki itu terlihat begitu sangat perhatian, peduli, dan rasa sayang yang diperlihatkan pada muka bingungnya ketika mencari kue ulang tahun yang pas untuk seseorang istimewanya itu membuatk...

Cerita Tentang Satu Hari

Cerita Tentang Satu Hari Aku ingin berbagi cerita padamu, kali ini. Meski cuma sehari. Baiklah, sepertinya cukup untuk hari ini. Hari kita bersantap ria kudapan yang ada di hadapan. Meski hanya sekedar sebatang coklat dan keripik kentang, tapi lumayanlah untuk mengganjal perut. Atau paling tidak kita harus berterimakasih pada kudapan ringan itu, karena telah berhasil membuat suasana bisu menjadi riuh, karena suara berisik yang dihasilkan oleh kunyahan-kunyahan mulut kita membuat suasana menjadi seru. Paling tidak, hari ini, aku ingin kau mengenang hari ini. Yang bisa saja suatu hari nanti menjadi tidak lagi berarti atau mungkin tetap selalu menjadi misteri, yang masing-masing hanya kita yang tahu. Semilir datang lagi, kali ini dia datang dengan senyum sumringahnya, yang membuat rerumputan berlonjakan riang dan air-air di kubangan sisa hujan semalam menjerit senang. Kamu tahu, ini kali pertama si Sunyi pergi mengembara. Ke sebuah negeri jauh, tersembunyi di antara pohon perdu. Saat...

GADIS PUKUL SEBELAS SIANG

GADIS PUKUL SEBELAS SIANG Seorang gadis berbaju coklat sedang duduk termenung sendirian di pojokan sebuah kedai kopi. Dia diam dan pandangannya terlihat kosong. Seperti sudah bosan hidup. Tak ada gairah dan semangat untuk menghadapi matahari yang sedang memanas siang ini. Sebuah kopi espresso , berbuih dan panas menemaninya dengan setia. Cukup aneh untuk siang bolong yang gerah seperti sekarang. Dia diam. Menatap pada kepulan panas di hadapannya. Hanya menatap. Tak ada hasrat untuk mencicipinya, meski hanya seseruputan. Mungkin karena masih panas. Entahlah. Aneh sekali gadis itu. Paling tidak dalam penglihatanku dia terlihat tidak biasa. Ada sesuatu yang ganjil dari dirinya. Dia sendiri sadari atau tidak. Dia mengaduk-aduk espresso-nya tanpa maksud yang jelas. Sesekali dia mengernyitkan dahi, dan tersenyum, entah karena apa. Lalu kulihat dia menitikkan air mata. Untuk gadis semanis dia, tak pantas air mata keluar dari matanya. Entah karena rasa empatiku atau memang karena ra...

KADO UNTUK REI…

KADO UNTUK REI… Awan yang bergelayut mesra di langit sana seperti telah siap untuk menumpahkan semua tangisnya. Langit hitam pekat, aku mempercepat langkah kakiku. Menuju halte bus. Pulang ke rumah. dengan segala kehangatan di sana. Kehangatan yang kumaksud di sini bukan seperti yang ada di dalam sinema-sinema elektronik, dengan anggota keluarga lengkap berkumpul di ruang keluarga, dengan meja makan penuh masakan-masakan khas buatan seorang ibu, adik-kakak akur bercengkrama, seorang bapak yang sedang menyeruput secangkir teh sembari membaca Koran, ditambah dengan si Pus menjadi binatang peliharaan yang juga ikut senang. Bukan, bukan seperti itu gambarannya. Tidak semewah itu. Aku hanya tinggal berdua dengan Mbok Inah, orang yang udah merawat aku sedari kecil. Aku anak tunggal, dan kedua orang tuaku telah meninggal pas aku berumur enam tahun. Entahlah aku sendiri tidak begitu ingat akan peristiwa itu. Bagiku Mbok Inah udah aku anggap kayak orangtuaku sendiri....

Lelaki itu Bernama….

*cerita ini kubuat ketika aku mengalami puber kedua...ha-ha-ha...I felt in love with someone who I didn't know his name..,stupid..but it's truly happened.* Sampai akhirnya saya bisa kenal,dan sampai sekarang saya dan dia bersahabat baik. # dan perasaan yang dulu sempat ada hilang begitu saja...., memang puber...ha-ha # Lelaki itu Bernama…. Sepenuh hati aku berlari, keringatku bercucuran. Sesekali aku melirikkan mata ke arah jam digitalku yang berdiam di pergelangan tangan kiriku. Jam 11.20…mati aku!! kuliahku udah dimulai lebih dari setengah jam yang lalu. Aku memaki habis-habisan bus yang tadi sempat menahan laju motorku begitu lama. Entah karena di depannya juga ada kendaraan yang berhenti ato apa, tapi jelas dia membuatku lebih lambat 15 menit dari yang seharusnya. Lima belas menit…hanya lima belas menit, namun…untuk hari ini lima belas menit menjadi waktu yang sangat menentukan buatku. Karena lima belas menit ini cukup membuat waktu presentasiku di kelas berkurang. Da...

Sebuah Kisah Tentang Koma

Sebuah Kisah Tentang Koma Ngomongin cowok plus cinta buat cewek semacam aku ini serasa “wasting time” bangeeet! Bukannya ngga minat, ngga suka, ato bagemana-bagemana seeehh…hanya aja, menurutku masih banyak hal yang pengen aku lakukan selain mikirin makhluk bernama cowok. Salah satunya dengan jadi anak yang ngebanggain ortu tentunya. Mungkin buat sebagian orang terkesan kaku, ngga gaul, konservatif atau apalah istilah-istilah yang ngegambarin betapa kunonya aku. Tapi guys, itulah aku. Biasa, sederhana, simple, dan ngga aneh-aneh. Dan sumpah…asli!!! Temen-temenku pada ngetawain pola pikirku yang kayak gitu. Anehkah aku? Bagiku punya segudang prestasi di skul, punya wajah yang ngga jelek-jelek banget, punya ortu yang tajir abis, punya sobat-sobat yang nyenengin, semua anugerah itu ngga harus digembor-gemborin kan?Meski begitu aku selalu berpenampilan biasa-biasa aja, berangkat skul naek angkot bahkan pernah juga jalan kaki walau habis itu kakiku pada pegel semua. Hehehe…tapi entah kena...