Langsung ke konten utama

Postingan

Madu dan Racun

Madu-Racun                                                                                                                      Begitulah, bahkan diantara  madu dan racun bisa jadi sebuah kesatuan yang unik. Tidak membunuh karakter satu sama lain, justru kadang-kadang perpaduan diantara keduanya bagai obat. Penyembuh bagi Si Sakit, penenang bagi Si Khawatir. Madu, begit...

Dead for Nothing

Ini adalah puisi pertama saya yang saya buat dalam bahasa lain selain bahasa saya sendiri. Begitu saya mengaduk-aduk lagi file-file lama saya, saya cukup tertegun dan sedikit heran juga, ternyata saya bisa juga ya buat puisi beginian....*a big grin* Puisi yang saya tulis pada bulan November 2009 ini menceritakan mengenai seseorang yang menganggap bahwa dengan "mati" maka persoalan hidupnya akan selesai begitu saja. Akhirnya karena putus asa dengan ketidakadilan yang menjadi problematika hidupnya, seseorang yang menjadi tokoh utama dalam puisi ini memutuskan untuk mati dengan cara bunuh diri, dengan harapan dengan dia mati bunuh diri orang akan mengenal dan mengenangnya. Baiklah, silakan dinikmati sajian dari saya yang bertema sedikit "gelap" ini. Dead for Nothing Dead for nothing It seems you frightened to be alive Coz no one getting you in caring And you feel world likes full of scary and fear You disappear Like a magic dust, flying on the dusky murky night ...

November in Rain

Rainy days is coming back, in November. The stories about rain are coming and over. Rain is a long waiting period, a time which it could complete our silence when we need, and the smell of wet-ground is so romantic and makes a fresh sensation. I am taking a deep breath when rain came. Rain is my best friend, rain is my partner. I miss the song of rains. I was sitting in a coffee shop, with a cup of hot chocolate and Mozart’s melodies. The sounds of raindrops are like a song. A friend of mine reminded me to a rain story, to my old memories, played my mind. Rain makes me realize what is a life, search trough, finding, parting, tears, happy-laughed, friendship, and love also. Rain makes me alive; it could make me dealing with my past. Rain teaches me in the process of waiting, and patience. I learn about the price of leave-taking and get-together processing. My fingers stopped to make any move from my keyboard, when a waitress came with another cup of hot chocolate. ‘It is for free. B...

WHERE WILL YOU GO TOMORROW, INDIE?

Sebuah tulisan yang sempat-hampir terbuang.... A. A History of Indie’s Music Emergence Indie was a group movement music based from anything ideas, without any manipulative. This genre could be counted as a reverse-current form for mainstream music. We could see the difference between mainstream genre and indie from the label making process. Mainstream music was a big stream having had a lot of bands under the big label, an established music industry. The mainstream genre bands were promoted spread expansively to the local and international community. The promotion dominated in all mass-media. Contrary to the mainstream genre, Indie music only located in certain community. The publishing were not routinely as a labeled-music. So, if we talked about the difference between indie and mainstream, we faced on the industry’s problem, the point was investment value produced by record company. Indie grew up in Indonesia Naturally. Initially, in 1970s, this genre was known as underground m...

Hening-Cipta

Hening-Cipta Sebuah penciptaan muncul dari datangnya sebuah ilham. Sebuah petunjuk yang datang, bisa dari berbagai macam arah. Ketika kita sedang berdiam diri, berdiskusi dengan kebekuan dan mulut terkunci. Matamu berkaca. Tampak sebuah air mata akan jatuh dan membuat wajahmu jadi sembab. Tapi tidak, kau masih bertahan dengan senyum teduhmu yang malahan membuat mataku lebam karena isak tak mau berhenti. Hati manusia tidak pernah pasti. Kalaupun dibilang pasti hari ini, bukan tidak mungkin Ia akan bimbang di kemudian hari. Belajar dari Si Pasti. Dia tidak akan berganti. Meskipun banyak orang akan mencaci. Dia tetap teguh, percaya pada bisikan-bisikan halus yang mengetuk hatinya untuk tak berpaling. Setiap hari,akan kusuguhkan kau metamor-metamor alphabet ke dalam loker kerjamu. Akan kutemani kau dalam hening, dalam diam, dalam bekunya api. Kau berharga, Sayang. Tak pantas kau tersakiti dan pergi menyingkir. Lihatlah, sudah berapa banyak jari-jari ini menari melakukan pencip...

Saling

Kukerahkan semua pikiranku untuk berangan. Kupaksakan semua filosofi hidup yang kupunya agar menghasilkan sebuah tulisan. Ada banyak upaya yang musti dilakukan agar semua asa rasa terbayar. Begitu banyak ruang yang ingin diselami. Tapi mungkin waktu tak cukup banyak memberi kompromi. Semua berdiri pada masing-masing pilar hati yang ada di dalam sak baju mereka. Tidak ada eksistensi. Pola mereka terbaca. Sama. Ritme dan perpaduan gerak langkahnya. Makin lama makin jelas. Aku jadi mengerti kenapa mereka saling berdiam dalam dentuman yang luar biasa keras dan memekakkan telinga. Aku cukup memahami. Akh…lagi-lagi memahami. Pemahaman yang berjalan satu arah. Terlalu banyak jeda antara aku dan mereka. Ruang bernyawa itu tak akan berarti apabila masing-masing dari kami tidak saling mengisi. Tidak saling memberi kekuatan, tidak saling berbicara. Kata saling menjadi kunci penting dalam tulisan ini. Sama seperti lari estafet, sekencang apapun kita berlari, sejauh apapun kita melaju bersa...

Ujung dan Pangkal

Mungkin setelah pertemuan manis kita tadi malam,kau bergumul dengan asap-asap rokokmu. Kali ini, sepertinya kau butuh tak cukup sebungkus, Sayang. Pikiranmu berjalan ke tengah bertemu pada sebuah persimpangan. Persimpangan itu sama-sama membuatmu berarti, dalam porsi yang beda memang. Tapi membuat duniamu sama berwarnanya. Meski dia mungkin lebih suka beri warna violet sementara aku warna-warna primer yang pun bisa kau olah menjadi warna favoritmu. Aku tidak yakin malam ini kantuk mampu mengganggumu. Rasa-rasanya, rasa kantuk yang kau perlihatkan tadi hanyalah cara anggun untuk mengatakan padaku bahwa kamu ingin segera beristirahat dan sebaiknya aku segera pulang. Aku tahu, cintamu yang begitu besar untuknya membuatmu takut untuk menyakitiku. Tapi bukankah, masing-masing dari kita semua tak pernah mengenal definisi cinta yang sebenarnya. Tidak aku, tidak juga kamu. Mungkin juga definisi cinta dalam pikiran kita ini pun tak sama, tapi sejak kapan pikiran punya hak paling besar untuk m...