Langsung ke konten utama

Postingan

Marzuki Alie, Masih Waraskah Anda?

kali ini saya ingin mem-post sebuah tulisan mbak Linda dari kompasiana. Tentang sebuah pernyataan seorang ketua DPR yang menurut saya tidak bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya, yang menurut saya kurang layak disebut sebagai seorang pejabat tinggi yang berperan mewakili rakyat dan digaji dengan uang rakyat. Saya tidak bermaksud menghakimi, karena saya sendiri juga manusia biasa yang masih perlu banyak belajar. Tapi ketua DPR gitu lho.....bukan cuma pekerja biasa yang mungkin bisa menyempatkan diri untuk ber-fesbukan di sela-sela waktu kerjanya...(sebenernya ini juga kurang bener-red). Baiklah berikut ini tulisan yang ditulis oleh seorang kawan. Marzuki Alie, Masih Waraskah Anda? Ini adalah surat terbuka untuk Marzuki Alie. Berlembar-lembar tisu sedari tadi mengusap butiran air mata saya ini, seorang Ibu dari satu anak yang sepanjang hari hidup berjuang mempertahankan sebuah kehidupan yang bermartabat, layak dan senantiasa minta berkah Tuhan secara baik. Tidakkah Anda ...

Sebuah Apel dan Dua Bungkus Mie Goreng Ukuran Jumbo

Siapa menyangka malam minggu yang biasanya tidak membuatku kelimpungan karena sendirian tanpa kawan, kali ini membuatku resah tanpa alasan. Malam ini kuputuskan untuk tidak pulang ke kampung halaman seperti yang sudah-sudah kulakukan tiap minggunya, aku masih tetap terpekur di sebuah ruangan berukuran 3x3m dengan televisi yang menyala cukup keras hingga mungkin cukup mampu membuat seekor semut menjadi tuli. Rumah kos kali ini sepi. Mungkin sebenarnya aku ditemani oleh hantu-hantu yang tidak punya nyali untuk unjuk diri, akh..mungkin sebaiknya juga mereka tidak menampakkan diri. Bisa kuajak mereka berdansa di bawah temaram bulan sampai pagi dan bisa-bisa aku tak sadarkan diri dan bangun di kamar mandi nanti. Terlalu beresiko, aku tidak punya cukup nyali untuk bangun dan mendapati diri basah di pagi hari. Acara pencarian bakat di televisi pun tak mampu usir rasa sepiku. Aku hanya menganggap orang-orang di dalamnya hanyalah sebuah gambar bergerak yang tidak bisa kuajak bicara. Bahkan ...

Madu dan Racun

Madu-Racun                                                                                                                      Begitulah, bahkan diantara  madu dan racun bisa jadi sebuah kesatuan yang unik. Tidak membunuh karakter satu sama lain, justru kadang-kadang perpaduan diantara keduanya bagai obat. Penyembuh bagi Si Sakit, penenang bagi Si Khawatir. Madu, begit...

Dead for Nothing

Ini adalah puisi pertama saya yang saya buat dalam bahasa lain selain bahasa saya sendiri. Begitu saya mengaduk-aduk lagi file-file lama saya, saya cukup tertegun dan sedikit heran juga, ternyata saya bisa juga ya buat puisi beginian....*a big grin* Puisi yang saya tulis pada bulan November 2009 ini menceritakan mengenai seseorang yang menganggap bahwa dengan "mati" maka persoalan hidupnya akan selesai begitu saja. Akhirnya karena putus asa dengan ketidakadilan yang menjadi problematika hidupnya, seseorang yang menjadi tokoh utama dalam puisi ini memutuskan untuk mati dengan cara bunuh diri, dengan harapan dengan dia mati bunuh diri orang akan mengenal dan mengenangnya. Baiklah, silakan dinikmati sajian dari saya yang bertema sedikit "gelap" ini. Dead for Nothing Dead for nothing It seems you frightened to be alive Coz no one getting you in caring And you feel world likes full of scary and fear You disappear Like a magic dust, flying on the dusky murky night ...

November in Rain

Rainy days is coming back, in November. The stories about rain are coming and over. Rain is a long waiting period, a time which it could complete our silence when we need, and the smell of wet-ground is so romantic and makes a fresh sensation. I am taking a deep breath when rain came. Rain is my best friend, rain is my partner. I miss the song of rains. I was sitting in a coffee shop, with a cup of hot chocolate and Mozart’s melodies. The sounds of raindrops are like a song. A friend of mine reminded me to a rain story, to my old memories, played my mind. Rain makes me realize what is a life, search trough, finding, parting, tears, happy-laughed, friendship, and love also. Rain makes me alive; it could make me dealing with my past. Rain teaches me in the process of waiting, and patience. I learn about the price of leave-taking and get-together processing. My fingers stopped to make any move from my keyboard, when a waitress came with another cup of hot chocolate. ‘It is for free. B...

WHERE WILL YOU GO TOMORROW, INDIE?

Sebuah tulisan yang sempat-hampir terbuang.... A. A History of Indie’s Music Emergence Indie was a group movement music based from anything ideas, without any manipulative. This genre could be counted as a reverse-current form for mainstream music. We could see the difference between mainstream genre and indie from the label making process. Mainstream music was a big stream having had a lot of bands under the big label, an established music industry. The mainstream genre bands were promoted spread expansively to the local and international community. The promotion dominated in all mass-media. Contrary to the mainstream genre, Indie music only located in certain community. The publishing were not routinely as a labeled-music. So, if we talked about the difference between indie and mainstream, we faced on the industry’s problem, the point was investment value produced by record company. Indie grew up in Indonesia Naturally. Initially, in 1970s, this genre was known as underground m...

Hening-Cipta

Hening-Cipta Sebuah penciptaan muncul dari datangnya sebuah ilham. Sebuah petunjuk yang datang, bisa dari berbagai macam arah. Ketika kita sedang berdiam diri, berdiskusi dengan kebekuan dan mulut terkunci. Matamu berkaca. Tampak sebuah air mata akan jatuh dan membuat wajahmu jadi sembab. Tapi tidak, kau masih bertahan dengan senyum teduhmu yang malahan membuat mataku lebam karena isak tak mau berhenti. Hati manusia tidak pernah pasti. Kalaupun dibilang pasti hari ini, bukan tidak mungkin Ia akan bimbang di kemudian hari. Belajar dari Si Pasti. Dia tidak akan berganti. Meskipun banyak orang akan mencaci. Dia tetap teguh, percaya pada bisikan-bisikan halus yang mengetuk hatinya untuk tak berpaling. Setiap hari,akan kusuguhkan kau metamor-metamor alphabet ke dalam loker kerjamu. Akan kutemani kau dalam hening, dalam diam, dalam bekunya api. Kau berharga, Sayang. Tak pantas kau tersakiti dan pergi menyingkir. Lihatlah, sudah berapa banyak jari-jari ini menari melakukan pencip...