Langsung ke konten utama

Sebuah esai tentang kebudayaan bersifat simbolik

Di sebuah stasiun TV Swasta terlihat ada sebuah penayangan mengenai kehidupan sebuah suku yang masih kental dengan keprimitifannya. Sebut saja salah satu suku di Afrika. Tampak di sana sekelompok manusia berpakaian seadanya, sedang duduk mengelilingi api unggun. Kepala suku mereka sedang menceritakan kepada anggota kelompoknya yang lain, menceritakan mengenai sebuah batu yang tiba-tiba saja terlempar dari arah gunung berkapur hingga hampir membuatnya celaka, hingga detik itu juga dia, selaku kepala suku di sana menyatakan bahwa benda tersebut adalah ‘benda jahat atau benda setan’. Simbol tersebut dia gunakan sebagai bentuk kekhawatirannya terhadap anggota kelompoknya yang lain, sehingga mendorong agar anggota yang lain selalu waspada. Bentuk pengungkapan itu membudaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Hingga kemudian manusia menjadi lebih pandai dan cerdas hingga benda yang disebut-sebut sebagai benda jahat itu hanyalah sebuah bongkahan batu yang secara tidak sengaja terlempar akibat pergerakan bumi. Entah apa kasus tersebut dapat menunjukkan bahwa manusia dulu pun mulai mengenal simbol-simbol tertentu sebagai bentuk pengungkapan terhadap sesuatu. Namun, hingga kini pun kebudayaan (yang dijabarkan dengan lebih luas) mempunyai pengertian tersendiri mengenai hal ini. Bahkan, termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari yang bahkan bukan tidak mungkin kita tidak menyadarinya sebagai semacam simbolik kebudayaan yang berkembang.

Kebudayaan berasal dari bahasa sanskerta buddhayah (buddhi ; akal) yang dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Dalam Ilmu Budaya Dasar, kebudayaan dibedakan menjadi dua pengertian. Kebudayaan dalam arti luas dan sempit. Kebudayaan dalam arti luas, adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Lebih singkatnya kebudayaan dalam hal ini menekankan pada hasil karya fisik manusia baik itu berupa tindakan ataupun gagasan.Kebudayaan dalam arti sempit, (sering disebut budaya atau kultur) yang mengandung pengertian keseluruhan sistem gagasan dan tindakan. Hal ini ditekankan pada


nilai-nilai yang digunakan dalam berpikir dan bertindak. Koentjaraningrat menyebutkan bahwa paling sedikit ada tiga wujud kebudayaan, yaitu :
a. Sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.

b. Sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
c. Sebagai benda-benda hasil karya manusia.
(Koentjaraningrat, 1974:15)
Berbicara mengenai kebudayaan bersifat simbolik pikiran saya langsung melayang. Gambaran yang paling jelas adalah contoh berupa pemaknaan’ bahasa’. Seperti pemberian nama yang berbeda mengenai kata ‘anjing’ di berbagai macam tempat. Meski pada dasarnya yang dimaksud itu adalah hal yang sama. Hal yang serupa juga terjadi dalam hal pemaknaan sebuah simbol swastika. Di negara-negara barat hampir sebagian besar menganggap simbol tersebut bermakna negatif, hal itu dikarenakan swastika adalah lambang dari hal-hal yang berbau Nazi. Berbeda dengan orang beraliran kepercayaan Budha, lambang swastika berarti kedamaian dan keberuntungan yang baik. Dari dua contoh di atas dapat sedikit diambil kesimpulan secara general tentunya, bahwa pemaknaan simbol-simbol kebudayaan itu tergantung pada persepsi masing-masing orang dengan istilah yang sesuai dengan daerah atau budaya masing-masing. Pernyataan tersebut diperkuat dengan pendapat Michael C. Howard dalam bukunya ‘Contemporary Cultural Anthropology’ yang menyatakan bahwa simbol itu memiliki pengertian abstrak, dimana terkadang pemikiran yang satu mengenai sesuatu, berbeda dengan yang lain.

Untuk lebih jelasnya, contoh yang paling bisa dilihat dengan jelas adalah adat- istiadat dari satu daerah dengan daerah yang lain. Terutama di Indonesia yang kita semua tahu bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki ribuan pulau yang tentunya heterogenitas yang dimiliki pun cukup tinggi. Adat atau budaya dari suatu daerah dapat digunakan sebagai sebuah contoh nyata bahwa kebudayaan bersifat simbolik. Misalnya bentuk rumah joglo di Jawa denagn rumah panggung di daerah Kalimantan. Hal tersebut bukan berarti tidak memiliki maksud. Rumah Kalimantan dibangun dalam bentuk panggung karena dengan kondisi alam yang masih bersifat liar memungkinkan masih terdapat ancaman dari binatang-binatang buas, berbeda dengan kondisi alam di Jawa yang cukup memungkinkan mendirikan bangunan di atas tanah. Begitu juga dalam hal pakaian daerah yang menjadi semacam daya tarik, ciri khas dari suatu daerah dan adat tertentu. Hal itulah sebenarnya yang membuat Indonesia ini kaya dengan berbagai macam budaya.

Namun, seiring dengan berjalanya waktu kebudayaan simbolik tidak hanya dikiblatkan hanya kepada budaya-budaya daerah, bahasa pemaknaan terhadap sesuatu saja. Bahkan sekarang ini pencakupannya jauh lebih luas. Hal-hal yang kini sangat terdeteksi dengan mudah adalah budaya konsumtif yang ada di sekitar saya sendiri. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya memiliki jiwa konsumtif yang tinggi. Pertanyaannya adalah apakah hal ini dapat dikategorikan dalam sebuah karakteristik yang dapat dijadikan sebagai sebuah contoh bahwa kebudayaan bersifat simbolik. Menurut pendapat saya hal itu bisa dijadikan contoh. Mengingat bahwa kebudayaan tidak hanya terikat pada ide, atau gagasan tapi bisa juga berupa tindakan. Budaya konsumtif merupakan sebuah simbol yang menunjukkan bahwa keinginan manusia itu benar-benar tak terbatas. Hanya dengan sebuah sentilan dari media iklan yang menarik, dari penyampaian yang meyakinkan kita dengan mudah tergoda untuk membeli, memiliki dan memanipulasi sebuah produk demi kepuasan batin diri sendiri. Seperti kisah teman saya yang menceritakan betapa kebutuhan hidupnya makin bertambah seiring dengan adanya penambahan uang saku dari orangtuanya. Padahal sebelum bertambah, kebutuhannya cukup terpenuhi, tapi mengapa justru ketika uang sakunya bertambah bukan malah bersisa tapi habis ludes entah kemana. Jawabannya sederhana saja, karena kebutuhannya manusia itu memang tak terbatas. Buruknya adalah hal ini menjadi tidak terkendali, di mana banyak masyarakat yang kurang mampu menahan diri, kurang mampu bersikap bijak dan mengatur diri sendiri untuk dapat memenuhi kebutuhan sebagaimana mestinya. Kebutuhan manusia memang tak terbatas. Semakin kita memiliki banyak uang, semakin kuat hasrat kita untuk memenuhi segala kebutuhan yang belum terpenuhi. Memang ada baiknya jika kita semua, dapat mengelola pemenuhan kebutuhan dalam batas yang wajar, demi masa yang akan datang tentunya. Budaya anak muda yang terkena imbas dari ‘westernisasi’ sekarang ini juga bisa dijadikan contoh nyata yang lain. Budaya dugem yang makin marak terutama di kota-kota besar makin tak terkendali. Dengan kedok mencari angin segar, menghilangkan penat, dan seribu satu alasan lainnya mereka memanfaatkan kesempatan dan fasilitas yang ada lagi-lagi demi kesenangan dan kepuasan pribadi. Tak peduli berapa uang yang dikeluarkan untuk bisa masuk atau mungkin menjadi member di sebuah klub-klub. (seperti yang terlukis dalam ‘Jakarta Undercover’ karya ethnograpy Moammar Emka), yang pasti hanya orang-orang berkantong tebal yang mampu memenuhi persyaratan tersebut. Baik atau buruk perilaku itu kembali lagi pada persepsi masing-masing orang. Kalau memang hal tersebut kurang memiliki manfaat yang berarti, kenapa mesti dilakukan? Bukankah masih banyak hal yang bisa dilakukan. Baik atau tidak memang hanya memiliki garis batas tipis yang tidak terlihat. Kita memang tidak bisa memberikan penilaian benar atau salah. Tapi memang tak dapat disangkal, dan kita pun tak dapat menutup mata bahwa gejala-gejala semacam ini memang ada dan tumbuh di sekitar kita.

Bagaimana cara mengatasinya? Cukup sederhana. Belajar menahan diri. Itu saja.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

dongeng Si Gajah dan Si Badak

dongeng Si Gajah dan Si Badak April 14th, 2008 Suatu hari di sebuah hutan belantara tampaklah seekor gajah yang berbadan besar dengan belalai panjangnya sedang bercengkrama dengan seekor badak. Si Badak terpesona melihat dua gading gajah yang membuat Si Gajah makin terlihat gagah. Kemudian Si Badak bertanya " Jah…Gajah…kok kamu bisa punya sepasang cula yang hebat begitu bagaimana caranya tho?…kamu terlihat semakin gagah saja". Lantas dengan bangga Si Gajah pun bercerita tentang puasa tidak makan tidak minumnya selama 80 hari. Berkat puasa itulah Si Gajah bisa mendapatkan cula yang hebat seperti yang Badak lihat sekarang. Akhirnya karena Si Badak juga ingin tampil gagah, dia pun mulai menjalani puasa 80 harinya seperti yang Si Gajah lakukan. Seminggu kemudian…… "Ahhh…enteeeeeng…." Badak sesumbar. Dua minggu berikutnya…… Si BAdak mulai sedikit lemas, dia masih bertahan meski rasa lapar, rasa haus kian menghantuinya. Dia iri melih

Langkahkan Kakimu dan Luaskan Pandanganmu

    Ada banyak kota di dunia ini yang bisa saja saya tulis dan saya rangkai untuk kemudian menjadi tokoh utama dalam tulisan ini. Sayangnya, ternyata urusan memilih kota impian itu tidak lah semudah seperti memilih baju mana yang hendak dipakai di dalam tumpukan baju yang belum disetrika. Njlimet saya tuh orangnya… :D Eropa, US, Canada, Oz, New Zealand, Egyptian, Southern Asia, hingga East Asia macam Seoul, Japan, negara dan kota yang nge-hits belakangan karena faktor serial drama-dramanya   juga tak membuat saya lantas menisbahkan mereka untuk menjadi salah satu kota yang ingin saya kunjungi. Ya seneng juga melihat beberapa teman sudah banyak yang berhasil menapaki diri ke sana, entah karena pekerjaan, karena sekolah, karena usaha kerasnya sedari dulu, karena memenangkan undian, atau yang karena dapat bonus dari usahanya mengejar poin, bahkan ada juga yang karena pasangannya horang tajir melintir, akhirnya kesempatannya untuk bisa bepergian keliling Indonesia bahkan ke lua